Setelah HPS 2018 usai, terus apa?

Banjarbaru Hari Pangan Sedunia 2018 dipusatkan pada tanggal 18-21 Oktober 2018 di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sekitar 34 km dari Kota Banjarmasin

Adapun tema nasional yang diangkat dalam HPS ke-38 adalah ‘Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045‘. Sesuai dengan tema ini, salah satu kegiatan utama dari HPS 2018 ialah Panen Raya Padi Rawa di lahan rawa lebak yang sudah diolah menjadi lahan sawah di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala. Saat ini, padi di lahan seluas 240 hektare sudah memasuki tahap siap panen, sementara sisanya masih dalam pemeliharaan dan sebagian kecil sudah siap tanam.

Di Desa Jejangkit Muara sendiri ada 750 hektare yang disiapkan untuk HPS 2018. Lahan ini terbagi menjadi dua cluster, yaitu 240 hektare dan 510 hektare. Presiden Joko Widodo direncanakan melakukan panen di cluster 240 hektare, tetapi sayang batal. Lahan 750 hektar ini merupakan bagian dari proyek besar pembukaan 4.000 hektar lahan rawa menjadi lahan sawah.

44330677_10210430457157058_2990958239308316672_n

Bagi petani, ini merupakan hal yang luar biasa karena untuk pertama kalinya panen dilakukan di Bulan Oktober. Biasanya, bulan Oktober – April lahan rawa mulai terendam. Untuk itulah mereka biasa melakukan penanaman padi sekali setahun dimana musim tanam dimulai setelah bulan Oktober, tergantung ketinggian air. Dengan ini tidak tertutup kemungkinan petani dapat menanam padi dua kali setahun.

Namun dengan bantuan Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR, kendala alam ini dapat teratasi. Pembangunan insfrastruktur pertanian misalnya irigasi polder sepanjang 60,3 km untuk mengairi 750 ha sawah lahan rawa. Polder ini dilengkapi dengan 9 pompa air berkecepatan 100 liter per detik, sehingga mampu mengatur ketinggian air di lahan.

Petani di Jejangkit Muara sendiri sebanyak 340 orang, setiap petani bertanggung jawab mengolah 16-20 ha lahan.

Tapi kemudian beberapa pertanyaan muncul setelah HPS berakhir. Apa yang akan dilakukan setelah HPS selesai? Apakah lahan, beserta insfrastruktur dan peralatan pertanian di sana akan kembali terbengkalai? Apakah lahan yang terlanjur dibuka akan berubah menjadi lahan sawit?

Optimis dan pesimis

Sikap optimis ada karena melihat potensi dan sumber daya yang ada. SDM yang sebenarnya sudah mumpuni, yaitu: petani yang sudah berpengalaman sebelumnya ditambah dengan bantuan, pelatihan dan penyuluhaan selama persiapan HPS 2018. Selain itu, penyuluh pertanian yang konsisten untuk membantu petani menjelang HPS merupakan modal yang bagus. Hasil-hasil riset Balittra dan BPTP Kalimantan Selatan seharusnya mampu menghadapi kendala yang ada. Ditambah lagi dengan insfrastruktur, peralatan, fasilitas dan lain-lain yang ditinggalkan. Seharusnya dengan sumberdaya yang ada, pertanian di Jejangkit dan sekitarnya  dapat berkembang, dan lahan 4000 ha tersebut dapat dikembangkan secara optimal dan kontinue.

Tidak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan, beberapa rice estate dapat terbentuk. Rice estate dapat didirikan di Jejangkit Muara sedangkan sawah plasma nya tersebar di Kab. Batola dan Kab. Banjar. Letak Jejangkit Muara sangat strategis karena terletak di perbatasan kedua kabupaten. Jika  tidak mencukupi, padi dapat dipasok dari wilayah Gambut dan Kertak Hanyar.

Pesimisme muncul karena melihat proyek-proyek top-down pembukaan lahan pertanian selama ini yang biasanya mengalami kegagalan. Memang dari sisi teknologi dan infrastruktur akan mencukupi, namun bagaimana dengan kelanjutannya mengingat faktor-faktor tersebut sangat tergantung pada bantuan pemerintah. Mampukah, misalnya pompa air dapat difungsikan jika bantuan pemerintah dikurangi dan dihilangkan?

Dari sisi jumlah petani, mampukah petani menangani lahan sedemikian luas, berkisar 16 ha per petani. Mungkin mesin, peralatan, pupuk, dan input lainnya dapat di-support oleh pemerintah. Tetapi bagaimana dengan pemasarannya, mengingat pertanian umumnya memiliki forward linkage yang lemah?

Lahan rawa juga tidak mudah untuk ditangani. Lahan rawa yang baru dibuka tidak bisa langsung ditanami. Lahan itu harus diberi perlakuan terlebih dahulu dengan pengapuran, pemberian bahan organik dan penataan air yang baik untuk mencuci pirit dan menaikkan pH tanah. Maukah petani bersabar untuk menganani lahan sedemikian luas, atau cukup menangani lahan tak lebih dari 3 ha saja, sementara sisa lahan dibiarkan terbengkalai? Mampukah teknologi yang ada bisa mengatasi kendala ini? Mampukah petani mampu memperoleh teknologi ini?

Salah seorang kolega, dengan nada pesimis berkata bahwa bisa saja ini hanya taktik semata. Lahan hutan rawa dibuka seluas 4000 ha, kemudian dibiarkan terbengkalai untuk selanjutnya lahan disewakan untuk ditanami kelapa sawit. Miris, inilah satu cara untuk memperluas kelapa sawit saat moratorium diberlakukan.

Keberlanjutan pertanian ini tergantung dari niat awal. Apakah hanya pencitraan dan proyek mercusuar saja? Apakah hanya karena ego daerah saja dan menunjukkan bahwa HPS dapat diselenggarakan?

Atau apakah memang benar-benar untuk membangun pertanian? Jika ini benar, maka semuanya tergantung konsistensi kita dan semua pihak yang terlibat. Jika konsisten, maka cita-cita Kalsel sebagai lumbung pangan internasional akan terwujud.

 

link sumber berita asli :

Iklan

Hujan dan Angin Tunda Sampai Tengah Malam Tunda Konser God Bless di Batola

Hujan dan Angin Tunda Sampai Tengah Malam Tunda Konser God Bless di Batola

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN – Fans grup musik legendaris God Bless di Batola harus bersabar. God Bless yang rencana konser di Lapangan 5 Desember Marabahan, Barito Kuala, Minggu (6/1/19) pukul 21.00 Wita, ternyata sampai pukul 23:00 Wita belum juga menggelar konsernya. Sejak sore,

Diyanor, warga Ulu Benteng Batola, sudah menunggu konser grup musik legendaris God Bless mulai habis salat Isya. Namun di Maraban hujan dan angin kencang, Petir juga tak berhenti-henti sehingga untuk sementara konser belum dimulai.

“Iya sampai sekarang masih hujan dan angin. Apa mungkin tengah malam atau dini hari, God Bless manggung. Sebagaian warga pulang. Ini panggung sepi sudah,” katanya

Sebelum tampil di Lapangan 5 Desember malam ini, Grup musik rock legendaris Indonesia God Bless telah melakukan Chek Sound, Minggu (6/1) pagi.

Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Hujan dan Angin Tunda Sampai Tengah Malam Tunda Konser God Bless di Batola, http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/01/07/hujan-dan-angin-tunda-sampai-tengah-malam-tunda-konser-god-bless-di-batola.
Penulis: Edi Nugroho
Editor: Rendy Nicko

Kedai Kopi “RAN COFFEE” Tempat nongkrong dan menjalin pertemanan

IMG_20181226_185156_HHT

Musik yang  Mengalun merdu melalui pengeras suara yang terpampang di meja salah satu kedai RAN COFFEE di jalan perdagangan kayutangi, sabtu (5/1) malam.

dua penyeduh kopi (mereka tak mau disebut barista), terlihat sibuk melayani tiap pelanggan yang datang. Mereka adalah Nasar dan Riza

Ada yang bertugas meracik kopi. Melayani pesanan, hingga menemani pelanggan ngobrol. Sesekali, para Penyeduh itu juga menanyakan bagaimana kopi hasil racikan mereka kepada pengunjung. Rata-rata menjawabnya dengan senyuman sembari mengacungkan jempol. Pertanda rasanya mantap. Begitulah sekilas interaksi di kedai tersebut.

Kedai kopi memang berlomba-lomba memberikan pelayanan memuaskan. Agar pelanggan merasa nyaman dan bisa menikmati suasana santai.

Belakangan kedai kopi mulai bertransformasi. Lebih interaktif. Dulunya cuma sekadar tempat untuk nongkrong, kini lebih dari itu. Bisa menjadi ruang curhat. Sebab mereka dengan senang hati menemani ngobrol.

Salah satunya Nasar. Dia kerap ngobrol hingga mendengar curhat pelanggannya.

Sesi curhat mengalir begitu saja. Diawali ketika pelanggan memesan kopi. Selama menunggu, saat itulah, sang Penyeduh mencoba membangun komunikasi. “Biasanya, pelanggan yang datang kerap duduk di depan bar sambil melihat proses pembuatan kopi. Sambil terus membuat kopi, aku ajak ngobrol. Dari obrolan ringan, hingga menjurus sendiri ke permasalahan yang dialami pelanggan hingga terbuka sesi curhat,” jelasnya.

Materi curhat pun bermacam-macam. Mulai persoalan keluarga, asmara, pekerjaan, studi, bahkan hal yang konyol. Semua bahan obrolan dia dengarkan dengan antusias. Sebab tujuan pertama orang yang curhat tentunya ingin berbagi rasa melalui cerita.

“Aku lebih banyak mendengarkan. Dengan berusaha menjadi pendengar yang baik. Mungkin sudah membuat pikiran pelanggan sedikit plong. Kalau pun diminta menanggapi atau memberikan saran, aku lebih cenderung mengungkapkan hal yang aku kuasai saja sebagai solusi atau saran,” ucapnya.

Bagi Nasar dan Riza, kedai kopi adalah tempat untuk membangun persahabatan dengan orang-orang baru. Yang sebelumnya sama sekali tak saling kenal.

Adanya interaksi itulah yang membuat pengunjung kedai nyaman. Contohnya seperti Bolang. Dia tak merasa kesepian jika harus nongkrong sendirian. “Soalnya ada penyeduh kopi yang siap menemani ngobrol. Itu yang membuat saya sering mengunjungi kedai kopi ini” ungkap mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat tersebut. “Ngomongin hal pribadi juga enak. Karena mereka bisa jadi pendengar yang baik. Bahkan bisa memberi solusi,” pungkasnya. (hrs)

Festival Tari Serumpun Melayu Pesisir IV 2019, Berikan Total Hadiah Rp 31,5 Juta

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATOLA – Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporabudpar), Kabupaten Barito Kuala akan menyelenggarakan Festival Karya Tari Daerah Serumpun Melayu Pesisir IV.

Bertempat panggung utama pameran hari jadi Kab Barito Kuala, di Lapangan Bola 5 Desember Marabahan, pada Senin (7/1/2019) malam.

Dijelaskan Ketua Pelaksana Teknis Kegiatan, Kasmudin, kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan pembinaan kreativitas terhadap grup tari agar tetap berkreasi, eksis, dan berkembang.

“Sehingga kegiatan ini diharapkan dapat menunjang pengembangan tari daerah Melayu pesisir yang ada di Kalimantan,” kata Kasmudin.

Para peserta yang ikut serta pada festival ini sanggar yang berasal dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. “Ada 12 peserta saat ini yang sudah memastikan mengikuti festival ini,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Festival Tari Serumpun Melayu Pesisir IV 2019, Berikan Total Hadiah Rp 31,5 Juta, http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/01/03/festival-tari-serumpun-melayu-pesisir-iv-2019-berikan-total-hadiah-rp-315-juta.
Penulis: M Maulana
Editor: Elpianur Achmad

Kabupaten Batola Genjot Pembebasan Lahan Jembatan Sungai Alalak

BANJARMASINPOST.CO.ID – PEMKAB Barito Kuala (Batola) terus menggenjot pembebasan bangunan di sekitar Jembatan Alalak, sebuah jembatan penghubung Kota Banjarmasin dengan Kabupaten Batola.

“Iya, kita hampir merampunkan pembebasan lahanatau bangunan Jembatan Alalak yang masuk wilayah Kabupaten Batola,,” kata Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Batola, Edy Supriadi, Selasa (10/7/18).

Menurut Edy, sejumlah angunan yang menjadi target pembebasan lahan untuk pembangunan jembatan Alalak.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Banjarmasin, Gusti Ridwan Sofyani, menyatakan pembangunan jembatan sungai Alalak, jembatan penghubung Banjarmasin dengan Batola dengan panjang sekitar 300 meter dan lebar 14 meter terus digenjot proses pembangunan.

Desain jembatan Sungai Alalak ini berubah menjadi melengkung karena membelah lahan milik PT Agrabudi.

“Jadi desain Jembatan Sungai Alalak ini nantinya seperti melingkar atau melengkung. Semacam setengah lingkaran,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Banjarmasin, Gusti Ridwan Sofyani.

Dikatakan Ridwan, jembatan dengan desain melengkung ini untuk menghindari terkena lahan- lahan punya orang. Untuk jembatan yang lama Sungai Alalak nantinya juga akan segera dibongkar.

“Posisi jembatan baru ini nantinya akan berada di atas jauh lebih tinggi di atas jembatan lama,” kata Ridwan.

Menurutnya, pekerjaan jembatan jembatan sungai Alalak tadinya hampir mengenai power house RSUD Ansayari Saleh sehingga sangat rawan menganggu kelancaran rumah sakit. Nah, power house di RSUD Ansyari Saleh ini sangat vital karena vital untuk operasional rumah sakit setempat.

“Untuk menghindari terkena power house RSUD Ansyari Saleh,” katanya.

Untuk wilayah Banjarmasin yang terkena pekerjaan Jembatan Sungai Alalak, sambung Ridwan, yakni dari arah dalam kota maka sebelah lahan sebelah kanan seperti kios-kios. Nah, itulah lahan yang akan dibebaskan.

Ditambahkannya, untuk pekerjaan jembatan ini, Jalan Alalak Utara juga ada yang terkena sebagian pekerjaan jembatan. Untuk IPA PDAM Bandarmasih juga terkena sedikit pekerjaan Jembatan Alalak.

Lebih lanjut Ridwan menyatakan jika lahan-lahan yang perlu dibebaskan oleh pemko sudah siap, maka Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Kementerian PU akan siap melakukan pelelangan fisik.

“Untuk pembebasan lahan per meter lokasi sekitar pekerjaan Jembatan Sungai Alalak itu Rp 3 juta per meter. Jika lahan yang dibebaskan sekitar 2.000 meter persegi, cukup lumayan nilai pembebasan lahan tersebut,” cetus Ridwan. (Banjarmasinpost.co.id/Edi Nugroho)

Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Kabupaten Batola Genjot Pembebasan Lahan Jembatan Sungai Alalak, http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/07/10/kabupaten-batola-genjot-pembebasan-lahan-jembatan-sungai-alalak.
Penulis: Edi Nugroho
Editor: Didik Trio

Pameran Harjad ke-58 Batola Semarak

 

Bupati Barito Kuala Hj. Noormiliyani AS membuka secara resmi pameran pembangunan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala ke_58 tahun 2018 dihalaman Perpustakaan Daerah Senin (8/1).

Dalam sambutannya Bupati Batola menyampaikan, pameran pembangunan ini selain sebagai ajang promosi dapat juga dijadikan sebagai momentum untuk menyatukan segenap potensi yang dimiliki oleh daerah dalam bingkai kebersamaan, yang sampai saat ini terbukti mampu sebagai pemicu percepatan pembangunan daerah.

Kemudian lanjutnya, pameran merupakan event tahunan sebagai ajang promosi produk terutama bagi Industri kecil dan Usaha Kecil Menengah (UKM), serta ajang bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk menyebarluaskan informasi hasil kinerja nya agar diketahui masyarakat luas.

“Semoga dengan adanya pameran ini mampu menciptakan transaksi yang menguntungkan bagi para pesertanya”, harapnya.

Menutup sambutannya, Bupati perempuan pertama diKalsel ini mengingatkan kepada para peserta pameran baik dari SKPD maupun pedagang agar dapat memanfaatkan momentum kegiatan ini dengan sebaik-baiknya serta agar dapat menjaga kebersihan dan ketertiban dalam pelaksanaannya terutama menjaga taman-taman yang ada disekitar lokasi pameran.

Pengguntingan pita tanda pembukaan pameran dilkukan oleh Ketua TP-PKK Kabuaten Batola Hj. Saraswati Dwi Putrnati Rahmadian Noor.

Sebelumnya ketua panitia pameran yang juga Kepala Dinas Sosial Kabupaten Batola Fuad Syekh dalam laporannya menyampaikan, pameran kali ini diikuti sebanyak 165 peserta yang terdiri dari 50 stand SKPD, BUMN, Forkopimda dan Ormas, kemudian 101 stand dari Pedagang dan UKM serta warung makan minum sebanyak 14 peserta.

Pameran kali ini diselenggarakan selama 7 hari mulai dari tanggal 8 sampai 15 Januari 2018.

sumber : http://v7.baritokualakab.go.id/2018/01/09/pameran-harjad-ke-58-batola-semarak.jsp

Gubernur Akui Berbagai Kemajuan Batola

 

 

Kamis (04/01/2018), Kabupaten Barito Kuala (Batola) genap berusia 58 tahun. Namun puncak perayaannya dilaksanakan, Senin (08/01). Peringatan Hari Jadi (Harjad) ke-58 kabupaten berjuluk Bumi Ijejela ini dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) H Sahbirin Noor dan isteri Hj Raudatul Jannah, anggota DPR dan DPD RI dapil Kalsel, ketua DPRD Kalsel, para anggota Forkopimda Provinsi Kalsel, Bupati/Walikota beserta isteri, serta pimpinan SKPD dan instansi vertikal.

Di hadapan seluruh undangan, gubernur yang akrap disapa Paman Birin itu mengakui berbagai kemajuan yang diraih Batola sepanjang 58 tahun perjalanan usianya.

Berbagai capaian dan prestasi atas upaya optimal yang telah diraih tersebut, harapnya, hendaknya jangan sampai membuat terlena. Namun harus dijadikan modal untuk membangun daerah yang lebih baik lagi.

Lebih-lebih, lanjutnya, visi pembangunan yang diusung pasangan Hj Noormiliyani – H Rahmadian Noor yaitu Membangun Desa dan Menata Kota Menuju Masyarakat Sejahtera yang memiliki makna sangat penting bagi kemajuan daerah.

Di peringatan ini Gubernur Sahbirin Noor juga menyinggung hal lain yang perlu mendapat perhatian yaitu menyangkut pengentasan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan serta yang tak kalah penting menyangkut pemberantasan penyalahgunaan narkoba yang belakangan ini sudah sangat parah.

Di akhir sambutannya, gubernur mengajak masyarakat Batola untuk menjadikan Peringatan Hari Jadi ini sebagai momentum untuk melakukan refleksi, mengukur, dan mengevaluasi kembali seluruh capaian pembangunan serta menyelaraskan agenda pembangunan dengan kebijakan pembangunan, baik yang dijalankan Pemerintah Provinsi, maupun Pusat.

Sebelumnya, Bupati Batola Hj Noormiliyani mengatakan, kemajuan yang dialami Batola ini tidak terlepas dari kerjasama dan bantuan Pemerintah Nasional dan Provinsi Kalsel.

Isteri mantan Bupati Batola H Hasanuddin Murad itu menambahkan, sejak dirinya dan Wakil Bupati H Rahmadian Noor dilantik maka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan akan bertumpu pada Visi Pemkab Batola yaitu Terwujudnya Barito Kuala Satu Kata Satu Rasa, Membangun Desa dan Menata Kota, Menuju Masyarakat Sejahtera atau disingkat Batola Setara.

“Cita-cita kami dengan visi ini akan bekerja keras agar Batola benar-benar setara dengan kabupaten lainnya di Kalsel. Sedangkan masyarakatnya memiliki kedudukan yang sama dalam pemenuhan hak dan kewajiban serta pembangunan daerahnya diperlakukan sama sehingga tidak ada sebutan wilayah yang dianakemaskan atau dianaktirikan,” katanya.

Di puncak Peringatan Harjad ke-58 Batola ini Gubernur H Sahbirin Noor dan isteri serta para pejabat lainnya sempat diajak untuk menyanyikan bersama lagu daerah Barito Kuala Ulek Marabahan.

Peringatan yang berlangsung cukup meriah ini juga menyuguhkan aneka tarian dari Sanggar Permata Ije Jela mulai dari tari penyambutan Baksa Kembang, tari Ihik Malan, persembahan lainnya.

Di sela acara Bupati Hj Noormiliyani didampingi Wakil Bupati H Rahmadian Noor juga menyerahkan tali asih kepada para ahli waris penuntut Kabupaten Barito Kuala.

sumber : http://v7.baritokualakab.go.id/2018/01/08/gubernur-akui-berbagai-kemajuan-batola.jsp